Sampah Menumpuk Berhari-hari, Warga Graha Walantaka Keluhkan Kinerja DLH Kota Serang
Warga Perumahan Graha Walantaka mengeluhkan bau menyengat akibat tumpukan sampah yang tak kunjung diangkut oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Serang.
Pantauan di lokasi pada Rabu (24/06/2026), tumpukan sampah tampak membludak di Tempat Pembuangan Sampah (TPS) yang berada dekat Tempat Pemakaman Umum (TPU) Graha Walantaka, Jalan Blok M, Kelurahan Pengampelan, Kecamatan Walantaka, Kota Serang. Material sampah didominasi oleh sampah plastik, styrofoam, serta sampah rumah tangga yang mulai membusuk.
Sejumlah warga mengeluhkan kondisi tersebut karena menimbulkan aroma busuk yang sangat menyengat. Terlebih di musim penghujan saat ini, tumpukan sampah memicu banyaknya lalat hijau yang mulai beterbangan hingga masuk ke rumah-rumah warga.
Salah seorang warga yang tinggal di dekat lokasi TPS mengeluhkan lambatnya penanganan sampah ini.
“Waduh, sampah tidak diangkut-angkut.
Baunya sampai ke sini, apalagi pas makan rasanya mau muntah,” keluhnya saat ditemui pada Senin (23/06/2026).
Ia pun meminta pihak terkait agar segera mengambil tindakan nyata sebelum kondisi lingkungan semakin memburuk.
“Coba kalau bisa mah diangkut, tolong sampaikan ke dinas terkait. Baunya tidak tahan, menyengat sekali karena sudah lama tidak diangkut. Di tempat lain mah banjir air, di sini malah banjir sampah. Bau bikin pusing,” tambahnya dengan nada kecewa.
Saat dikonfirmasi mengenai masalah ini melalui pesan singkat WhatsApp, Kepala Kelurahan Pengampelan, Dayat, tidak memberikan respons meskipun telah dikirimi beberapa pertanyaan beserta bukti foto tumpukan sampah di lokasi.
Di sisi lain, ketua RT setempat saat dimintai keterangan menjelaskan bahwa pengelolaan area pembuangan tersebut berada di luar wewenangnya.
“Terkait sampah yang di tempat pembuangan sampah (TPS) itu kewenangan Pak RW. Terkecuali kalau sampah langsung dari warga, baru itu urusan saya,” jelasnya.
Warga mengaku khawatir kondisi ini akan berdampak buruk pada kesehatan lingkungan, terutama bagi anak-anak dan lansia yang rentan terhadap penyakit akibat pencemaran.
Menurut penuturan warga, permasalahan keterlambatan pengangkutan sampah di wilayah mereka bukan kali pertama terjadi. Namun, kali ini tumpukan sampah dibiarkan jauh lebih lama dibanding biasanya tanpa adanya pemberitahuan atau penjelasan dari pihak terkait.
“Kami bukan tidak mau memahami, tapi seharusnya ada solusi atau setidaknya pemberitahuan. Jangan sampai sampah dibiarkan begitu saja,” pungkas warga lainnya.
Warga sangat berharap pemerintah daerah dan instansi terkait segera turun tangan untuk membersihkan area tersebut, sekaligus mengevaluasi sistem pengangkutan sampah agar kejadian serupa tidak terus berulang di masa mendatang.









