Oleh: C2P Azhar (Advokat & Akademisi)
Kekayaan paling sejati berawal dari sikap rido atas apa yang diberikan Allah SWT menjadi hati selalu cukup, bersyukur dan tidak tamak harta. Kekayaan sejati bukan terletak pada harta banyak tetapi pada hati yang menerima pembagian Allah dengan lubuk hati yang paling dalam. Merujuk pada Al-Quran surat Al-Furqan ayat 2 yaitu Allah menetapkan takdir/Qadar dengan sempurna. Dan Al-quran Surat Al-Hud ayat 6 yaitu Allah menjamin rezeki makhluk-nya.
Konsep ini diawali dengan ikhtiar/usaha maksimal yang halal dan baik, lalu bertawaqal, maka hasilnya diterima dengan penuh hati/lapang dada. Jadilah orang yang wara’ niscaya engkau menjadi orang yang paling berbakti atau qana’ah niscaya engkau orang yang paling bersyukur. HR. Ahmad Tirmidzi menyatakan bahwa jadilah engkau orang yang rela dengan taqdir allah, niscaya engkau menjadi orang yang terkaya.
Kaya hati merupakan pondasi moral yang membuat seseorang merasa kaya dalam segala hal karena ia memiliki hati yang cukup, bersyukur dan tenang. Ahli Hukum Islam/pakar spritual menekankan qana’ah dengan menerima kenyataan dengan hati yang lapang sebagai perbendaharaan yang tidak akan pernah sirna, menciptakan kebahagiaan sejati yang tak bisa dibeli dengan materi.
Seseorang yang memiliki kaya hati lebih mudah menjalin hubungan yang harmonis baik dengan sesama manusia maupun dengan alam karena tidak didorong oleh rasa itu atau kompetisi yang merusak. Kekayaan hati menuntun pada akhlak yang mulia dengan nilai-nilai tauhid yang bersumber dari perasaan cukup dan kedekatan dengan nilai-nilai ilahi.
Menurut Para Fuqaha seperti iman Al-Ghazali dan Fuqaha lainnya menyatakan pentingnya menjaga hati dari penyakit-penyakit yang dapat merusak akhlak. Bagi para Fuqaha berupaya menyeimbangkan nilai spritual (hablumminallah) dan Sosial (hablumminannas) yang menghasilkan keadilan dalam berijtihad. Selain itu sebagai sumber moral yang memastikan keputusan hukum yang diambil didasarkan pada ketaqwaan bukan hawa nafsu.
Dengan demikian kaya hati merupakan mentalitas yang mengutamakan nilai-nilai moral diatas kepentingan pribadi, menjadi orang yang dermawan dan rendah hati alias tidak angkuh karena ia sadar semua harta itu adalah titipan dari Allah SWT. Seluruh langit bumi dan isinya adalah kepunyaan Allah manusia hanyalah tamu yang diberi amanah sementara saja atau dengan kata lain manusia hanyalah pengelola yang diamanahi untuk menggunakan harta sesuai syariat mencari Rizki yang halal, berzakat dan bersedekah.













