Oleh: C2P Azhar (Praktisi Hukum & Akademisi)
Puasa Ramadhan secara luas diyakini memiliki dampak positif membantu menurunkan kortisol dan meningkatkan endorfin baik dari sudut pandang psikologis, fisiologis maupun spiritual.
Puasa Ramadhan sangat efektif mengurangi kecemasan dengan menurunkan Kartisol (hormon Stres) dan meningkatkan hormon endorfin (Hormon Bahagia) yang memicu kebahagiaan lahir dan bathin. Kegiatan spiritual ibadah dan meningkatkan kontrol diri selama ramadhan membantu menstabilkan emosi, meningkatkan fokus dan memberikan ketenangan jiwa secara alami.
Kegiatan ibadah seperti sholat, tarawih, tilawah dan dzikir memberikan efek menenangkan pada sistem saraf mengurangi tingkat kecemasan. Puasa juga meningkatkan produksi BDNF (protein yang merangsang saraf baru) di hippoampus yang mengatur suasana hati dan fungsi kognitif serta manfaat sosial seperti buka puasa bersama memberikan dukungan emosional yang mengurangi stres.
Puasa Ramadhan diakui dapat mengurangi stres dan kecemasan melalui berbagai studi ilmiah, berdasarkan Alquran dan Al-hadist serta pandangan ahli diantaranya yaitu:
Peneliti Jandali et.al (2024) berpendapat bahwa puasa ramadhan mampu meningkatkan kebahagiaan kepuasan hidup serta menurunkan tingkat stres, kecemasan dan depresi dan menurut Dr. Ronny Tri Wirasti berpendapat puasa membantu mengurangi stres menenangkan fikiran dan meningkatkan kontrol emosi karena pola makan yang teratur.
Menurut pendapat Prof. Dr. Rena Latifa Ahli Psikolog menyatakan bahwa puasa Ramadhan adalah mekanisme untuk membentuk kembali keadaan psikologis yang meningkatkan kesehatan jiwa menumbuhkan keseimbangan emosional dan memperkuat ketahanan dalam menghadapi kesulitan. Puasa melatih pengendalian diri (mindfulness) yang mengurangi stres.
Menurut pendapat Prof. Dr. Hasan Bakti Nasution menyatakan peran puasa dalam membentuk kesehatan jasmani dan mental sedangkan menurut Ustad Adi Hidayat menekankan bahwa puasa bukan sekedar ritual tahunan melainkan sarana meningkatkan kualitas hidup meraih ketenangan jiwa kebahagiaan dan mendekatkan diri kepada Allah.
Menurut Kementrian Kesehatan RI menyebutkan bahwa puasa Ramdhan yang benar dapat membantu mengatasi stres mencegah cemas dan mengurangi depresi dan meningkatkan endorfin yang perannya meningkatkan suasana hati.
Menurut Syaikh Abdal Hakim Murad (pendiri Cambrigde Muslim Collage) menyatakan bahwa puasa dapat menjadi coping mechanism (mekanisme pertahanan diri) dari berbagai mental illness termasuk mengurangi kecemasan.
Menurut Imam Al-Ghozali ahli filsuf dan ahli tasawuf berpendapat bahwa puasa tidak hanya menahan lapar dan haus tetapi sebagai latihan spiritual untuk mencapai kesucian hati dan mengalihkan perhatian dari keinginanan duniawi yang berlebihan dan merupakan akar dari stres dan tidaktenangan jiwa.
Berdasarkan Hadist yang diriwayatkan dari Abu Hurairah menegaskan puasa sebagai pelindung dari perbuatan buruk emosi negatif dan perilaku tidak terkendali. Ini mengajarkan manajemen emosi dan ketenangan jiwa yang secara langsung mengurangi stres dan kecemasan.
Dalam kontek kesehatan mental merujuk Alquran (QS. Ar-ra’d:28) menegaskan bahwa hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tentram. ramadhan yang penuh dengan ibadah (tilawah, zikir, shalat malam) meningkatkan intensitas mengingat Allah, sehingga menenangkan hati dan pikiran. Di dalam QS. Al-Baqarah : 183-185 adalah sarana komprehensif untuk kesehatan jiwa dan raga yang membantu mengelola dan mengurangi stres.
Dalam kontek ini puasa ramadhan maupun puasa Sunnah menahan diri dari syahwat dan amarah yang membawa dampak ketenangan mental dan fisik. Dan Puasa yang benar membantu meningkatkan kesehatan jiwa dan raga diera modern ini








