PRINSIP TRANSFER ILMU DAN KEILMUAN MENJADI BASIS SINE QUA NON ADANYA ( Kritikan Pedas Allah Terhadap Rasul saw. Atas Sikapnya Yang Tidak Sedap Terhadap Ibn Ummi Maktum).
Disekat oleh dua penggal kata sebagai keterwakilan atas kapasitas dirinya, yakni “Muhammad” dan “Rasulullah”. “Muhammad”, merujuk pada juntrung identitas diri ( sebuah nama : الشخص الحقيقي), bahwa beliau tidak lain adalah manusia biasa (al-Kahfi : 10 ), yang menggiring konsekuensi, beliau diberi pasilitas (kesempatan) oleh Allah untuk berekspresi, berkreasi dan beraktualisasi ( al-a’radh al-basyariyah). Sementara, “Rasulullah” adalah sebuah predikatif ( محمول ) yang merujuk pada kapasitas dan wilayah tugasnya, bahwa beliau eksis pada zona pasif, yakni tidak memiliki kewenangan untuk menyusun agenda risalah ( syari’at). Soal ini, sepenuhnya berada pada kendali remote control otoritas-Nya ( al-Najm : 3).
Namun demikian, pada tataran konteks tertentu, “Muhammad” sebagai manusia biasa di satu pihak dan “Rasulullah” sebagai predikatif di pihak lain, acap berkelindan dalam satu hentakan keputusan Ijtihadnya.
Contoh faktualnya, adalah kasus sikap beliau yang tidak sedap terhadap sahabat Ibn Ummi Maktum, yang memantik lahir kritikan ( teguran pedas) dari Allah. Syahdan, pada satu kesempatan, beliau saw. kedatangan sejumlah inohong Quraisy yang berpengaruh. Mereka ( antara lain ) : Abu Jahl Ibn Hisyam, Utbah Ibn Rubai’ah dan Abas Ibn Abdi al-Muthalib.
Bagi beliau saw. kedatangan mereka, adalah sebuah kehormatan dan sekaligus juga menjadi keistimewaan tersendiri. Pasalnya, ini sebagai momentum yang sangat berharga dan strategis untuk menawarkan Islam kepada mereka. Jika bersedia menerim Islam, di belakang mereka (para pengikutnya) pasti antri berduyun menyatakan diri masuk Islam.
Namun, apa yang terjadi? Di tengah susana yang tengah fokus dan serius, tiba-tiba menjadi pecah gara-gara ditingkahi oleh ulah seorang cacat netra, bernama Ibn Ummi Maktum. Tanpa menghiraukan suasana yang tengah berlangsung, ( maklum tidak melihat) dia berkata, “Ya Rasulallah, ajarkanlah kepadaku apa yang telah Allah ajarkan kepadamu”.
Sama sekali tidak digubris ( direspon ) alias cuek bebek. Malah yang terjadi, muka beliau saw. tampak masam dan langsung berpaling darinya ( Ibn Ummi Maktum). Beliau lebih fokus dan konsentrasi penuh pada mereka ( para inohong Quraisy ). Atas sikap yang dipertontonkan tersebut, beliau saw. medapat kritikan ( teguran pedas) dari Allah. Lebih jelasnya, terkemas dalam surat ‘Abasa : 5-10, ( yang artinya) : “Adapun terhadap orang yang berkecukupan ( bergengsi) , kamu demikian apresiatif. Padahal sama sekali dia tidak bisa memberi pencerahan kepadamu. Sedang kepada orang ( Ibn Ummi Maktum) yang datang dengan penuh perjuangan, dan dia takut ( kepada Allah), malah kamu mengabaikannya” .
Tunggu dulu jangan tergopoh menarik garis konklusi, bisa-bisa gagal paham, hingga beliau saw. divonis sebagai tokoh yang arogan, tidak hormat dan tidak peduli kepada orang yang cacat netra, padahal dia datang untuk meminta ilmu serta keilmuan untuk pencerhaan bagi dirinya. Rasul saw. adalah manusia “ma’shum” ( terjaga). Maknanya, beliau tidak memiliki kemampuan dan kesanggupan untuk berbuat maksiat ( termasuk menyombongkan diri dan menutup kesempatan dalam memberikan ilmu dan keilmuan terhadap Ibn Ummi Maktum).
Apa yang dilakukan beliau saw. di atas ( bermuka masam dan berpaling terhadap Ibn Ummi Matum) adalah orbit dari ruang pikir ( ijtihad)nya. Dalam situasi yang serius seperti itu, andai mesti meladeni permintaan Ibn Ummi Maktum, paling tidak ada dua ekses dan dampak negatif yang bakal timbul. Pertama, mereka ( inohong Quraisy) pasti tersinggung, (maklum para panggede yang biasanya gila hormat). Ke-dua ( ini yang paling pokok) peluang untuk menawarkan Islam kepada mereka menjadi terbuang percuma. Untuk sekedar meladeni permintaan Ibn Ummi Maktum, “bukankah bisa dilakukan di lain waktu dan kesempatan, mengingat keduanya sudah demikian akrab?”
Namun apapun yang terjadi dan terbukti, bahwa niatan baik beliau saw. atas dasar pertimbangan perspektif pribadi ( Ijtihad)nya, ternyata di mata Allah tidak demikian adanya. Tegasnya, ijtihad beliau dianggap keliru. Bagi Allah, mentransfer Ilmu dan keilmuan kepada siapapun ( termasuk kepada orang yang cacat netra seperti Ibn Ummi Maktum) untuk sebuah pencerhaan bagi dirinya, menjadi basis Sine qua non yang tidak bisa ditawar.
Pasca mendapat kritikan ( teguran) dari Allah tersebut, ketika Ibn Ummi Maktum datang kepadanya, langsung oleh beliau disambut dengan penuh hangat seraya berkata :
مرحبا بمن عاتبنى فيه ربى ، ويقول هل لك من حاجة؟
“Selamat datang orang yang membuat Tuhanku atas kasus tersebut, mengeritikku (dengan pedas). Lalu, beliau berkata, “Apakah Anda punya keperluan ?”
Andai diportet dari dimensi “Siyasah”, ini adalah skenario Allah yang diperankan oleh Rasul saw. untuk dijadikan sebuah materi pembelajaran, bahwa seorang akademisi/cendikia muslim terutama, harus memiliki ghirah ( semngat) untuk mentransfer dan mengembangkan ilmu serta keilmuan sebagai bentuk pencerahan kepada siapun, tanpa melihat obyek status, kelas sosial dan gengsinya; yang padahal bisa jadi pada segmen qua nalar akademisnya, belum tentu qualified.
Wallahu A’lam bi al-Shawab.








