Serang, Banten, 29 Maret 2026 – Sebuah diskusi yang menghubungkan pimpinan redaksi dengan praktisi jurnalis telah digelar di Sekretariat Lenterabanten Serang, bertujuan untuk memperkuat landasan profesionalisme dan mengembalikan marwah profesi jurnalistik di tengah dinamika zaman yang terus berkembang.
Acara yang menghadirkan berbagai perwakilan dari media massa dan organisasi profesi ini menjadi wadah untuk menyelaraskan pandangan antara pimpinan redaksi dan jurnalis terkait tugas, tanggung jawab, serta nilai-nilai dasar yang harus dijunjung tinggi dalam dunia pers.
Pimpinan Redaksi Media Online lenterabanten.com, Sarwani, menekankan bahwa kesinambungan antara arahan redaksi dan eksplorasi kreatif jurnalis adalah kunci untuk menghasilkan karya yang berkualitas. Menurutnya, identitas seorang wartawan sejatinya terukir dari hasil karyanya, bukan dari klaim atau popularitas semata.
“Wartawan akan dikenal dari karya tulisnya, bukan dari pelayarannya dan pengakuannya. Sebagai pimpinan redaksi, kami berperan untuk membimbing dan memastikan setiap karya yang diterbitkan memenuhi standar etika dan kepentingan publik,” ujar Sarwani.
Ia juga menggarisbawahi pentingnya proses kesadaran diri yang terus diasah oleh setiap jurnalis, serta hubungan yang erat antara dimensi profesional, filosofis, dan spiritual dalam menjalankan profesi ini. “Wartawan harus mengenali dirinya agar dapat mengenal Tuhan, dari sanalah lahir kejujuran, keberanian, dan tanggung jawab yang menjadi landasan setiap pemberitaan,” tambahnya.
Carim Candra Dinata, Jurnalis sekaligus Wakil Ketua Organisasi BARADA (Barisan Rakyat Anti Diskriminasi dan Anarki), mewakili pihak jurnalis menyampaikan bahwa profesionalisme dapat terwujud melalui konsistensi memegang etika, disiplin dalam verifikasi informasi, serta komitmen untuk menjadikan kepentingan publik sebagai prioritas utama.
“Di tengah tantangan yang semakin kompleks, kolaborasi antara pimpinan redaksi dan jurnalis sangat krusial. Marwah jurnalis hanya dapat dijaga jika kedua pihak sama-sama memahami bahwa jurnalistik adalah jalan pengabdian, bukan sekadar pekerjaan,” jelas Carim.
Diskusi ini juga menghasilkan kesepakatan bersama untuk terus melakukan pembinaan dan pengembangan kapasitas jurnalis, serta memperkuat sistem pengawasan diri dalam industri pers agar profesi wartawan tetap berdiri tegak sebagai pilar demokras
( Penulus: Carim )










