Oleh: C2P Azhar (Advokat & Dosen)
Dalam Ajaran Islam wudhu merupakan perisai untuk melawan godaan syetan dan gangguan jin atau lebih ekplesit bahwa wudhu merupakan pembakar setan atau jin.
Merujuk Al-Qur’an QS. Al-Kahfi ayat 50 menyebutkan bahwa wudhu adalah lambang kesucian fisik dan spritual. Setan atau bangsa jin sangat tidak menyukai kesucian dan lebih mudah menggoda manusia yang dalam keadaan kotor, emosi, marah atau Hadas. Kemudian dalam QS. Al-A’raf ayat 200 menyebutkan Al-Qur’an memerintahkan manusia untuk berlindung dari setan dan bangsa jin. Salah satu cara mengimplementasikan perintah tersebut adalah dengan menjaga diri tetap dalam keadaan berwudhu, terutama saat emosi, marah atau ada gangguan dari bangsa jin atau setan. Wudhu adalah syarat sah shalat, Shalat itu sendiri. Jika dilakukan dengan Khusu dan benar berfungsi untuk mencegah perbuatan keji dan mungkar merujuk Al-Qur’an QS. Al- Ankabut ayat 45 yaitu wudhu adalah tahap awal kesiapan mental tersebut.
Berdasarkan Hadist Riwayat Imam Bukhari No.3295 & Imam Muslim No.238 menyatakan bahwa jika salah seorang di antara kalian bangun tidur, hendaklah berwudhu dan membersihkan hidungnya tiga kali, karena setan telah bermalam di bagian atas hidungnya. Rasulullah SAW bersabda bahwa setan mengikat tengkuk kepala manusia saat tidur dengan tiga ikatan, jika seseorang bangun lalu berdzikir satu ikatan lepas. Jika berwudhu ikatan kedua lepas. Dan jika shalat lepaslah seluruh ikatan sehingga ia bangun dalam keadaan segar dan bersemangat
Pendapat para ulama dan fuqoha bahwa wudhu bukan sekedar penyucian fisik tetapi senjata spritual yang ampuh untuk emmbakar mengusir dan melepas ikatan setan serta jin dari manusia. Seperti pendapat Al-Qurthubi bahwa wudhu adalah musuh setan. Setan atau bangsa jin digambarkan takut dan terbakar dengan kesucian yang dihasilkan dari wudhu.
Imam Al-Ghazali ahli filsafat terkemuka dalam kitabnya ihya Ulumuddin berpendapat tentang hikmah lahiriah dan bathiniah dari bersuci (wudhu) sebagai alat pembersih hati dan pelindung dari bisikan setan.
Pendapat KH Ahmad Bahaudin Nursalim (Gus Baha) menyatakan bahwa menjaga kesucian diri dan berhati-hati dengan perkara haram (termasuk Korupsi/Gratifikasi) adalah wujud dari menjaga integritas seorang Muslim. wudhu adalah simbol kesucian fisik dan spiritual. (Korupsi dikategorikan sebagai ghulul (pengkhianat/pengambilan harta secara tidak sah) atau dosa besar, menjaga wudhu adalah bentuk Sadd adz-Dzari’ah (menutup jalan kejahatan /Maksiat) melalui peningkatan integritas spritual
Tidur dalam keadaan suci (sudah berwudhu) membuat malaikat bermalam di pakaian manusia dan memohonkan ampunan baginya. Hal ini menjadi benteng spritual dari gangguan setan selama tidur.
Dengan selalu menjaga wudhu seorang muslim terus memperbaharui niatnya untuk mendekatkan diri kepada Allah, sehingga ada kendali internal yang mencegah diri dari perbuatan dosa. Menjaga wudhu selama waktu bekerja (selalu dalam keadaan suci) adalah amalan Sunnah yang sangat dianjurkan dan memiliki keutamaan besar seperti dihapuskannya dosa-dosa kecil dan tanda kemuliaan di akhirat.










